PANDEGLANG, Terasnasional.id — Tantangan berat mewarnai upaya pencarian delapan korban speed boat yang hilang di perairan Selat Sunda. Tak hanya menghadapi luasnya lautan,

Tim SAR Gabungan kini harus bertaruh dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terpantau menyemburkan debu tebal pada pencarian hari kedua, Rabu (9/9/2026).​

Meskipun cuaca permukaan laut relatif bersahabat dengan tinggi gelombang 0,4 hingga 1 meter, munculnya semburan debu vulkanik memaksa tim ekstra waspada saat melintas di Sektor 1 dan Sektor 2.​

Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, S.Sos., menegaskan bahwa keselamatan seluruh personel gabungan tetap menjadi prioritas utama tanpa mengendurkan proses pencarian.​

“Kami juga memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pencarian akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan,” tutur Al Amrad.​

Hingga Rabu sore pukul 15.22 WIB, penyisiran yang melibatkan tujuh SRU di sekitar Pulau Sebesi, Sebuku, hingga Rakata belum menemukan titik terang.

Tim yang mengerahkan armada kapal perang, kapal SAR, hingga drone thermal masih mencatat hasil nihil.​Kecemasan kini menyelimuti keluarga serta insan pers.

Pasalnya, lima dari delapan korban yang hilang merupakan jurnalis yang sedang bertugas, yaitu M. Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (freelance). Mereka berada di dalam kapal bersama nakhoda Warta (55), ABK Surakman (60), dan pemandu Heriyanto (49).​

Upaya pencarian skala besar yang melibatkan unsur gabungan Banten dan Lampung, TNI-Polri, hingga nelayan lokal ini terus berlanjut. Tim SAR berkomitmen untuk mengevaluasi setiap perkembangan koordinat demi menemukan seluruh korban secepat mungkin.